Sabtu, September 25

Tujuan Penciptaan Manusia

0 komentar
Tujuan Penciptaan Manusia


الْحَمْدُ لِلَِّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ اْلعَزِيْزُ اْلغَفُوْرُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا. أمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مَا خُلِقْتُمْ عَبَثاً، خَلَقَكُمُ اللهُ لِعِبَادَتِهِ وَطَاعَتِهِ وَأَمَدَّكُمْ بِنِعَمِِهِ وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ ومَا فِي اْلأَرْضِ لِيَسْتَعِيْنُوْا بِذَلِكَ عَلَى طَاعَتِهِ، وَأَرْسَلَ إِلَيْكُمْ رَسُوْلَهُ وأَنْزَلَ عَلَيكُمْ كِتَابَهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ ما يَجِبُ وَمَا يَحْرُمُ، وَجَعَلَ هَذِهِ الدُّنْيَا دَارَ عَمَلٍ واْلآخِرَةَ دَارَ جَزَاءٍ وَحَذَّرَكُمْ مِنَ اْلإِغْتِرَارِ بِهَذِهِ الدُّنْيَا وَاْلإِنْشِغَالِ بِهَا عَنِ اْلآخِرَةِ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan berusaha sekuat kemampuan kita menjalankan perintah-perintah-Nya dan dengan menjauhi segala larangan-Nya.

Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa kita diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan semata untuk hidup di dunia, bukan pula untuk sekedar makan dan minum. Apalagi berfoya-foya untuk memenuhi setiap keinginan hawa nafsu kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Dari ayat tersebut jelaslah bahwa kita diciptakan untuk suatu tujuan yang besar dan sangat mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin memuliakan hamba-hamba-Nya, yang mewujudkan tujuan penciptaan dirinya, yaitu beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan hal itu sedikitpun dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi ibadah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita adalah untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنْ تَكْفُرُوْا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ جَمِيْعًا فَإِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ حَمِيْدٌ

“Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi ini seluruhnya kufur kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” (Ibrahim: 8)

Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Karena tujuan yang mulia inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus kepada kita Rasul-Nya, yang merupakan penutup seluruh para nabi, yaitu Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُوْلاً شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُوْلاً. فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُوْلَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيْلاً

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul (Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam), yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.” (Al-Muzzammil: 15-16)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam Tafsir-nya menyebutkan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala (di dalam ayat ini) berkata: ‘Memujilah kalian kepada Rabb kalian atas diutusnya Nabi yang ummi ini, yang berasal dari kalangan Arab, yang memberi kabar gembira dan peringatan serta menjadi saksi atas amalan yang dilakukan oleh umat ini. Bersyukurlah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan syukurilah nikmat yang besar ini dengan menaati utusan-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mengkufuri nikmat ini dengan tidak mau menaati Rasul yang diutus kepada kalian sehingga kalian seperti Fir’aun. Ketika Musa bin ‘Imran diutus kepada Fir’aun dan mengajaknya kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memerintahkannya untuk beribadah hanya kepada-Nya, dia tidak mau beriman kepada Musa, bahkan bermaksiat kepadanya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadzabnya dengan adzab yang sangat pedih.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Oleh karena itu, barangsiapa ingin mendapatkan kemuliaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia dan di akhirat, selamat dari siksa-Nya dan mendapatkan surga-Nya, tidak lain caranya dengan beribadah hanya kepada-Nya dan mengikuti petunjuk Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ. وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُوْدَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيْهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِيْنٌ

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisa`: 13-14)
Dengan demikian jelaslah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan sebab kebahagiaan seseorang di dunia dan di akhirat adalah dengan menaati Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kecelakan serta kebinasaan seseorang di dunia dan di akhirat adalah karena bermaksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk meraih janji Allah, untuk mendapatkan berbagai kenikmatan di surga-Nya dan dijauhkan dari siksa neraka, yaitu dengan mengisi kesempatan hidup di dunia ini dengan beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti petunjuk Rasul- Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُوْرُ

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kalian tentang Allah.” (Fathir: 5-6)

Hadirin, jamaah jum’ah rahimakumullah,
Kehidupan di dunia ini adalah suatu perjalanan yang menghantarkan pada kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Dunia adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat pembalasan. Maka janganlah kehidupan dunia ini melupakan kita dari kehidupan akhirat. Gunakan nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada kita di dunia ini untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya di akhirat nanti. Karena sesungguhnya karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik yang di langit maupun yang di bumi, semua itu telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tundukkan untuk manusia sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya. Janganlah kita menjadi orang yang menyesal di akhirat nanti sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلاَ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيْبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ. وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللهُ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Munafiqun: 10-11)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ.


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، خَلَقَ الْخَلْقَ لِعِبَادَتِهِ وَأَمَرَهُمْ بِتَوْحِيْدِهِ وَطَاعَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِي رُبُوْبِيَّتِهِ وَإِلَهِيَّتِهِ وَأَسْمَاءِهِ وَصِفَاتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ إِلَى بَرِيَّتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ سَارُوْا عَلَى نَهْجِهِ وَتَمَسَّكُوْا بِسُنَّتِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ الْعِبَادَةَ لاَ تَكُوْنُ عِبَادَةً إِلاَّ مَعَ التَّوْحِيْدِ كَمَا أَنَّ الصَّلاَةَ لاَ تَكُوْنُ صَلاَةً إِلاَّ مَعَ الطَّهَارَةِ، فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي اْلعِبَادَةِ فَسَدَتْ كَالْحَدَثِ إِذَا دَخَلَ فِي الطَّهَارَةِ. فَالشِّرْكُ لاَ يَصِحُّ مَعَهُ عَمَلٌ وَلاَ تُقْبَلُ مَعَهُ عِبَادَةٌ. وَلِهَذَا كَثِيْرًا مَا يَأْتِي اْلأَمرُ بِالْعِبَادَةِ مَقْرُوْناً بِالنَّهْيِ عَنِ الشِّرْكِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا}

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita isi kehidupan dunia ini dengan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Namun harus diketahui bahwa ibadah tidak akan diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dilakukan oleh orang yang bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana shalat tidak akan sah kecuali dikerjakan oleh orang yang bersuci. Apabila orang yang bersuci terkena hadats, maka rusaklah bersucinya, sehingga apabila dia shalat dalam keadaan demikian, maka sia-sialah shalatnya meskipun dilakukan sebanyak apapun.
Begitu pula orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala namun ia terjatuh kepada perbuatan syirik, maka dia bukanlah orang yang bertauhid. Apabila dia beramal, maka sia-sialah amalan yang ia lakukan karena dia melakukan perbuatan syirik. Maka jauhilah perbuatan syirik, janganlah seseorang berdoa, meminta kepada orang yang telah mati meskipun dia dianggap wali. Jangan pula menjadikannya sebagai perantara dalam meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Janganlah seseorang menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dengan istilah sesaji, sedekah bumi ataupun sedekah laut, karena semua itu adalah perbuatan syirik. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan kita di dalam Al-Qur`an tentang bahayanya syirik. Di antaranya dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ أُوْحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (berbuat syirik), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الـْمُسْلِميْنَ في كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْـمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ربِّ الْعَالَمِيْنَ.

0 komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan pesan siapalah yang berkenan............